KKL-DR 2020 Tanggal 28 Juli

 

Dalam Islam penyakit itu sering dikaitkan dengan Bala’musibah, fitnah, adzab. Penyakit juga dapat berbentuk kuman sejenis bakteri yang merupakan ciptaan Allah meskipun melalui hasil perbuatan manusia itu sendiriBimaa kasabat aydin-nas. Dengan kata lain menggunakan istilah waba’ atau thaa’uun. Arti thaa’uun adalah suatu penyakit yang menular dengan penyebaran jangkauan yang sangat luas, penyakit yang mencemari udara dan dapat menggerogoti tubuh serta penyakit yang dapat mengakibatkan kematian dengan waktu sepersekian detik, sangat cepat.

Sebagaimana hadist menyatakan, “Dari ‘Aisyah R.A., aku bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai wabah penyakit menular yang mematikan. Beliau menjawab bahwa wabah itu merupakan azab hukuman yang dikimkan Allah kepada siapapun yang dikehendaki-Nya, tetapi Allah menjadikan itu sebagai Rahmat bagi orang-orang yang beriman (karena) barang siapa yang mendapati wabah penyakit disuatu negerinya lalu ia tetap tinggal di situ dengan sabar lantaran mengharap pahala Allah serta yakin bahwa segala sesuatu yang menimpanya pasti sudah ditentukan olah Allah, maka jika meninggal dunia baginya pahala seperti orang yang gugur syahid dijalan Allah.” (HR. Bukhari)

Guna mencegah penyebaran COVID-19, Islam juga mengajarkan untuk tidak keluar rumah, menjaga kebersihan dengan berwudhu’, mencuci tangan, menjaga jarak dan lain sebagainya. Mengkonsumsi makanan yang baik dan halal juga merupakan suatu hal yang sangat penting selain untuk memperkuat imunitas tubuh manusia.Mengindari konsumsi makanan yang membawa kemudharatan apalagi mengkonsumsi makanan yang jelas-jelas haram dalam Islam. Karena kerusakan yang terjadi pada tubuh manusia adalah berasal dari yang apa mereka perbuat serta apa yang dimasukkan kedalam perut mereka.

Terkait dengan Covid-19 dan Islam, Ibn Qayyim pun mengajarkan kita untuk menghindari potensi apapun yang bisa membuat seseorang terinfeksi wabah tersebut, senantiasa menjaga kesehatan dengan baik sebagai modal hidup di dunia dan akhirat, menghindari menghirup udara yang telah tercemar kuman penyakit irus tersebut, menjaga jarak dengan seseorang yang terinfeksi atau menerapkan (social distancing), berfikir positif, bertawakkal kepada Allah, berhati-hati, melakukan pencegahan, memperbanyak mengingat Allah dengan  ibadah serta pengetahuan. Wallahu a’lam bisshawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KKL-DR 2020 Tanggal 16 Juli